Jam telah
menunjukkan pukul 16.00 KST, kerlingan cahaya matahari yang cukup terik
menyinari lapangan sekolah yang telah sepi itu, tampak seorang gadis sedang
membuntuti seorang lelaki. Ya.. lelaki itu, dengan jumper yang selalu menutupi
tubuhnya, tidak lupa dengan mengenakan hoodie, menutupi wajahnya. Kesan yang
cukup misterius, hanya iu yang sekarang dipikirkan oleh Minah, gadis yang
berjalan membuntutinya.
Bang Minah,
seorang gadis remaja yang cukup berada di daerah Seoul. Tuan dan Nyonya Bang
adalah pengusaha yang cukup sukses. Dengan harta yang dimilikinya, semua lelaki
bahkan ingin mengencaninya. Namun, semua lelaki telah ditolaknya, karena
pandangannya saat ini hanya tertuju pada satu orang. Sedangkan lelaki yang
dibuntutinya, tidak lain adalah Kim Myungsoo. Kesan misterius, pendiam dan Cool
inilah yang membuat Minah begitu terpesona. Yeah, she’s attracted to him.
“kali ini, aku
harus membuntutinya, sampai rumah kalo bisa” gumamnya didalam hati. Perlahan
tapi pasti, itu yang sekarang ada di pikiran Minah.
“sampai kapan
kamu akan mengikutiku, Bang Minah-ssi” teriak Myungsoo tanpa menoleh melihat
wajah Minah yang terdiam. Bagaimana dia bisa tahu, gumam Minah saat itu. Myungsoo
lalu menolehkan kepalanya, menghadap gadis yang membisu ditengah kebingungannya.
“YAH! BANG
MINAH SSI! JAWAB PERTANYAANKU!” teriak Myungsoo, membuyarkan lamunan Minah saat
itu. Mata Minah hanya tertuju pada tanah yang dipijaknya, bingung harus
menjawab apa yang akan dikatakannya saat itu.
“A-aku...” mata
Minah langsung tertuju pada pandangan lurus kedepan, terlihat Myungsoo sedang
menatapnya dengan pandangan sinis. Pandangan itu, ya tidak semua orang
memberikan pandangan itu padanya, membuatnya semakin tertarik pada lelaki
tersebut.
“Sudahlah,
tidak perlu kau jawab pertanyaanku, bye” pamit Myungsoo. Minah hanya bisa
melihatnya berjalan menjauh, memasuki sebuah gerbong subway yang cukup lengang.
Kebengongan Minah saat itu akhirnya terpecah dengan suara klakson kereta yang
cukup lantang, menggema sampai didalam telinganya.
“A-aku harus
mengejar Myungsoo, ntah apa yang akan dikatakannya nanti” pikir Minah. Segera
dia membeli tiket, lalu memasuki gerbong yang sama dengan Myungsoo. Myungsoo
hanya menatapnya, ntah apa yang dimaksud dengan tatapan itu. Apakah dia
tertarik padaku? Yah, semoga begitu, hanya itu yang ada di benak Minah saat
itu.
Minah hanya
bisa berdiri sambil memegang pegangan subway yang ada diatas kepalanya.
Sedangkan Myungsoo, dia duduk dipojok, tak lupa dengan menyalakan MP3nya,
menggunakan headphone yang menjadi ciri khasnya. He’s so hawt, pikir Minah
sambil menggigit bibir bagian bawahnya.
Pikiran Minah
mulai buyar ketika kereta subway berhenti di stasiun Gangnam, tampak puluhan
pekerja akan segera menaiki gerbong yang dinaikinya. Dan benar, gerbong
tersebut menjadi penuh sesak, dia hanya bisa melihat Myungsoo dari jauh, dengan
pandangan yang tidak jelas, karena tubuh pendeknya.
Tiba tiba,
Minah merasakan tangan seseorang sedang memegang pantatnya. Dia bingung harus
melakukan apa, karena hal ini merupakan pengalaman pertamanya menaiki Subway.
Minah hanya bisa berpikir, mungkin karena gerbong ini sangat sempit, sehingga
dia tidak mengindahkan hal tersebut. Namun, lama kelamaan pegangan tersebut
berubah menjadi remasan. Remasan demi remasan ini yang menyebabkan Minah bingung
harus berlaku apa, dia takut untuk berteriak, serta dia juga takut kalau orang
ini berlaku hal yang tidak tidak terhadapnya.
Minah hanya
bisa menutup mata, sambil menggigit bibir bawahnya, menahan keinginan untuk
berteriak yang sudah menyeruak ditenggorokannya. “nikmati saja, babe~” bisik
seseorang yang sedang menjamahnya, tidak lupa dia meniupkan nafasnya kedaerah
belakang telinga, sambil menjilati lembut daerah tersebut. Minah hanya bisa
bergidik, merasakan kegelian disekujur tubuhnya, sensasi yang belum pernah
dirasakannya.
Remasan pantat
itupun berpindah ke bagian depan, tangan kanan Molester itu telah mencapai
toked kanannya, remasan demi remasan dikeluarkannya sehingga Minah hanya bisa
menggeliat pelan, karena tangan kiri Molester itu mendekapnya. Jilatan demi
jilatan telah dikeluarkan oleh Molester itu, tepat ditengkuknya. Tak sadar,
minah mengeluarkan desahannya.
Aaahhhh....
desahan pelan itu menyeruak keluar dari mulut manisnya. Sang Molester hanya
bisa tertawa pelan. “ternyata kau cukup menikmati permainan ini, nona” remeh
sang Molester. Remehan itu yang membuat muka Minah merah padam, disatu sisi dia
menikmati permainan yang disuguhkan oleh Molester, namun sisi lain, dia tidak
ingin kehilangan keperawanannya.
Tiba tiba, sang
Molester meletakkan kedua tangannya digundukan toked Minah, puting minah yang
saat itu telah tegak mengacung, membuat sebuah gundukan kecil tepat dipucuk
toked Minah yang cukup menantang, dipilin olehnya. Taklama, Minah menggigit
telunjuk kanannya, mencegah agal tidak mengeluarkan desahan, sambil berusaha
lepas dari dekapan Molester itu. Dirasakannya bulge penis sang molester itu,
mengoyak belahan pantatnya.
Sensasi yang
dihasilkan oleh sang Molester itu, membuatnya menjepit pahanya sendiri. Lautan
nafsu sudah menguasai dirinya, tidak terbendung lagi ketika dia tiba tiba
mengejang kuat, sambil menggigit tangannya sendiri hingga berdarah, terasa
cairan mengalir turun dari lubang pussynya. Fuck, she’s orgasm!
Melihat Minah
yang kelonjotan itu, membuat sang Molester ingin segera menyatu dengannya.
Gundukan penis yang tertutup oleh celananya itu terasa sesak. Tak lama, dia
menurunkan zipper celananya, mengeluarkan penis yang tegak menantang.
Minah hanya
bisa memberikan tatapan sayu, tatapan yang begitu mengundang gairah lelaki untuk
segera menyetubuhinya. Minah menggoyang-goyangkan pantatnya perlahan, sehingga
kepala penis sang molester menyentuh kain dari rok sekolahnya, membuat Molester
itu memejamkan mata sejenak, menikmati perlakuan yang diberikan Minah.
Sekejap, penis
itu menyeruak daerah selangkangan Minah. Kaki minah yang masih menjepit pahanya
itu, membuat penis sang Molester terasa dipijit lembut. Tangan sang molester
tiba tiba masuk kedalam baju sekolahnya, meremas dan menggrepe tokednya secara
intens. Kedua telunjuk sang Molester memainkan kedua puting Minah secara lihai,
menggesekkan ujungnya, menyentilnya sesekali, bahkan menarik kuat lalu
memilinnya. Hal yang sungguh tidak bisa dibayangkan oleh Minah, sampai sampai
dia hanya bisa menutup matanya.
Tiba tiba, sang
molester menghentikan gerakannya. Ditengah rasa horny yang menyeruak, dia
membuka matanya, dilihatnya Myungsoo memegang kerah sang Molester, lalu
memukulnya. “JANGAN SENTUH PACARKU” ucap Myungsoo lantang, lalu memegang tangan
Minah. Molester itu lalu kabur dengan terburu buru, sebelum orang mengetahui
perbuatan bejatnya.
Kereta subway
itu tiba tiba berhenti distasiun Ganghwado. Lalu Myungsoo menariknya, kedua
insan itu turun dari kereta subway. Tetesan air mata telah terlihat diufuk mata
Minah, dilihatnya sosok Myungsoo dari belakang, “you’re my hero for today,
Myungsoo sshi” kata Minah. Myungsoo yang saat itu menuntunnya turun dari kereta
membalikkan badan, menatap wajah Minah yang saya.
“Maafkan aku,
Minah-sshi. Aku tadi mengatakan bahwa aku ini pacar mu, maaf” ucap Myungsoo,
sambil meletakkan kedua tangannya dipundaknya, tak lama dia mencium kening
Minah lembut. “but from now, you’re okay, Minah-ssi” kata Myungsoo.
Kata-kata manis dari seorang yang pendiam, dan
misterius itu, membuat Minah mengucurkan air matanya, tak elak dia memeluk
tubuh Myungsoo erat, seakan tidak mau melepaskan kehangatan yang dirasanya. “i
dont mind it, if you call me your girlfriend, actually i want to be yours” isak
Minah lirih. “i’ll do what you want from now on, Myungsoo sshi, call me, and i
will do anything for you” ucap Minah perlahan, sambil menatap wajah Myungsoo,
yang tetap memberikan pandangan dingin kepadanya.
“Do what i
want? Hmmm” pikir Myungsoo saat itu. Keadaan stasiun yang sepi, membuat dia
berpikir makin dalam, memikirkan apa yang akan dilakukannya terhadap Minah. Tak
lama, kedua tangan Minah memegang kedua pipinya, lalu mencium bibirnya. Awalnya,
Myungsoo diam menanggapi ciuman Minah. Tangan minah mulai menjalar ke bulge
sedang Myungsoo, perlahan meremasnya. Tak ayal lagi, Myungsoo pun melumat bibir
Minah.
Shhrrrpp
ssllrrpp~... desisan dan decakan yang ditimbulkan oleh ciuman kedua insan ini
menggema sampai keujung koridor sepi stasiun itu. Tak lama kemudian, Myungsoo
mengangkat kedua paha Minah, lalu memojokkannya ke dinding stasiun. Tangan
Minah mengalungi leher Myungsoo, sedangkan kedua kakinya berkait, memeluk
pinggang Myungsoo. Mereka berpagut, saling mengemut, dan memainkan lidah secara
liar, tetes demi tetes liur mereka mengalir turun, menetesi lantai tempat berpijaknya.
Tiba tiba,
Myungsoo melepaskan ciumannya. Dia menatap muka Minah yang penuh peluh.
“Myungsoo ya, i cant bear this... fuck me.. rite now” ucap Minah dengan nada
yang penuh gairah. Mata sayu yang dikeluarkannya membuat Myungsoo tidak dapat
berpikir untuk kedua kalinya. Sambil menggendong Minah, Myungsoo berjalan
menuju kamar mandi pria, lalu mendudukkan Minah dicloset tersebut.
Minah
mengangkangkan kakinya, menampakkan gundukan pussynya yang telah basah gegara
Molester tadi. Tampak bulu halus keluar dari sisi kanan dan kiri Cdnya.
Myungsoo hanya bisa diam, bingung harus mengatakan apa. “sampai kapan kamu mau
melihat pussyku, Myungsoo sshi!” ucap Minah, membuyarkan lamunan Myungsoo yang
menatap pussynya penuh arti.
Myungsoo lalu
duduk didepan closet, mukanya langsung menghadap digundukan pussy Minah yang
telah basah. Dia mengendus endus wangi pussy Minah, menikmati aroma yang timbul
dari orgasme sebelumnya. “can i lick it?” ucap Myungsoo lirih.
“Yes you
aahh~.... Myungsoo yaa~” tiba tiba Myungsoo menarik kuat Cdnya, lalu
melepaskannya, terasa kait CD yang cukup ketat itu menampar kulit sensitif
minah, jilatan jilatan lembut mulai dilancarkan oleh Myungsoo, perlahan
menurunkan CD minah.
Aagghhh
Myungssoo uugghhh~ .... hanya itu yang bisa diucapkan Minah, ketika Myungsoo
melahap habis pussynya. Tidak ada sisa tempat yang terlepas dari jilatan
myungsoo, her pussy slit is so damn wet now, clitnya telah bengkak dan mencuat,
menandakan dia berada dalam ectasy state.
M-myungssoo
uughh~ wanna cumm aahhhh~ ... teriakan minah menyeruak, menggema di kamar mandi
itu. Cairan bening muncrat keluar dari lubang pussynya, menyemprotkan ke
sekujur wajah Myungsoo. Myungsoo tetap menjilatin setiap tetes dari cum Minah.
Terasa asin, tapi sangat menggairahkan!
Sreeeggkk~ suara
zipper dari celana Myungsoo. Keluarlah penis berukuran sedang milik Myungsoo
dari celah zipper tersebut. Minah menatap penis Myungsoo itu, telunjuk kanannya
berada di sisi bibirnya, sambil mengulum ujung dari telunjuk itu. Tatapan sayu,
tapi begitu mengundang, gumam Myungsoo. Tangan kiri Minah memegang pangkal
penis myungsoo, dan mengarahkan ke lubang pussynya yang telah basah oleh
cairannya sendiri.
“apa yang kamu
mau, minah ssi?” remeh Myungsoo. Tanpa malu, Minah memegang kedua pundak
Myungsoo, lalu menghentakkan pinggulnya maju, kepala penis Myungsoo telah
menyeruak didalem pussynya. “fuck me, Myungsoo~ya!” ketus Minah. Perlahan,
Myungsoo membisikkan ke telinganya “i’ll fuck you... good”
Aahhhhh~ teriak
minah saat itu, ketika penis Myungsoo telah masuk seluruhnya kedalam pussynya.
Tetes demi tetes darah keperawanannya mengalir dari sela pussynya. Myungsoo
memejamkan mata sejenak, menikmati rasa hangat menyelimuti penisnya. “what a
bitch you are, Minah ssi” plas! muka Minah menjadi merah, menahan rasa malunya.
Tanpa aba aba sebelumnya, Myungsoo menggerakkan pinggulnya maju mundur.
Aaagghhh~ jerit
Minah ketika pussynya yang belum terbiasa telah dipermainkan penis Myungsoo,
gerakan penis Myungsoo yang maju mundur itu menyebabkan sensasi nikmat didalam pussynya,
serasa digaruk garuk dinding dindingnya yang gatal akibat rasa horny
sebelumnya.
“M-Myungsoo
aahhh~ why are ya soo good at thiss uugghh” desah Minah ga karuan, hentakan demi hentakan pinggul
Myungsoo serasa sangat dalam didalamnya, Minah hanya bisa memejamkan mata, dan
menggerakkan pinggulnya sesekali mengikuti irama Myungsoo mengentotnya.
“Aagghhh~
uugghh M-Minah, you’re being too loud, shut up!” kata Myungsoo sambil mencium
bibirnya, dilumatnya bibir manis itu, sehingga hanya mengeluarkan gumaman gumaman
panas. #plokplokplok suara pinggul Minah
dan Myungsoo yang saling bertemu menyeruak diseluruh isi kamar mandi itu.
Layaknya
piston, Myungsoo menggenjot pussy Minah dengan cepat, sodokan demi sodokan itu
dilancarkan ke G-Spot Minah, sampai Minah kelonjotan sesekali, kewalahan
menerima perlakuan penis Myungsoo. Tiba tiba, dirasakan sesuatu yang berkedut
didalam pussynya, penis Myungsoo siap untuk meledakkan amunisi didalamnya.
Minah
melepaskan ciuman seraya berkata “M-Myungsoo, dont cum inside me”. Kepalang
tanggung, Myungsoo menahan kedua paha Minah kuat kuat, sehingga tidak bisa
bergerak. “i will cum inside you hhngghh aahh~ m-minah ssii uugghh i
cumming!!!” #sspprrtllttcrootcroot pejuh Myungsoo mengalir didalam pussy Minah,
terasa pussynya penuh cum, sehingga beberapa tetes pejuh Myungsoo keluar dari
sela sela pussynya.
“Minah ssi,
from now on, you’re my slave” ucap Myungsoo sambil mencium lembut bibir
Minah.
-Section 1 END-
hi there gue mau comment agak panjang gapapa yak /iya gapapa/
BalasHapusgue baca dari atas diskripsinya bagus, cuman tolong perhatiin EYD. ps: reader satu ini sensitif banget sama EYD maap -_-v terus ada typo but not bad
pemilihan cast yah cocok2 aja sih, ga ada yang bikin protes apa gimana.
terus idenya gue lumayan suka sih cewenya stalker gitu entah kenapa suka aja ><
bagian nc nya lumayan, engga ding bikin hrny. tapi entah kenapa gue malah ngakak pas nemuin kata frontal orz. contohnya ini >> "her memek slit is so damn wet now" maafkan diriku yang gaje ini
terus endingnya bikin penasaran buat baca cerita selanjutnya T-T publish it ASAP gamau tau /maksa/
udah dulu ah comment nya kkk overall bagus kok buat ukuran ff kilat /? ditulis cuma bentar. keep writing ^^
-goldilocks
wkwkwk iye iye gue sadar =,= gobloknya xD wkwkwk tadi make find and replace soalnya xD
Hapusokay time to review~ :3 aw the ending XD awh slave <333 awh master <333 *my sub feeling OTL keuraii*
BalasHapushahaha
okay... jadi ada beberapa yang perlu diliat lagi ya... ga ngerti ini karena memang mau dibuat begini atau gimana. buat sebuah FF itu sebenarnya kita sebagai author seharusnya membuat sebuah cerita yang membawa readers ke dalam dunia dalam cerita kita. Don't care di luar seperti apa kita, frontal dan bla bla bla tapi cerita itu dibuat indah. jadi as for me sebenernya bahasa yang dipakai di sini ada beberapa yang kurang pas. bahasanya udah halus, penyampaian ceritanya cukup bagus tapi ada diksi yang kurang pas buat dipadukan sama rangkaian kalimat lainnya. (re: diksi yang frontal) ceritanya juga masih cepet banget, jangan terburu buru buat bikin suatu cerita...karena semakin kita menceritakan secara indah dan detil, feelnya lebih dapet. feel di bagian eksplisitnya juga lebih dapet. so after all bagus kok :3 menarik apalagi endingnya itu /\*~*) huaaaaa waiting for the BDSM scene aaaaaaiyaaa >O<
nah makanya itu '3' aku gabisa membelit belitkan sesuatu /? wkwkwkwk aku jadi bingung sih sebenarnya hiwhiwhiw, lumayan lah, thanks penilaiannya~ ^^
Hapus